Thursday, 27 January 2011


Kloning & Sejarahnya
             Baik, posting kali ini akan menjelaskan masalah kloning, tujuan, dan dilihat dari berbagai pandangan.... Juga dijelaskan asal mula kloning itu sendiri yang an berawal dari kloning domba Dolly..... Ohya, semoga bermanfaat.......

Selintas tentang Kloning
Kloning berasala dari kata Klon (Yunani) yang berarti: tunas. Dari bahasa Yunani, kemudian masuk ke bahasa Inggris menjadi Clone (kata kerja: mengklon). Kata kloning selama ini sudah dipergunakan dalam banyak bidang yang secara umum dipergunakan untuk menunjukkan cara reproduksi aseksual (reproduksi tanpa hubungan seks), misalnya cara menanam singkong dengan setek (menyetek), atau cara reproduksi sel dengan membelah diri. Selain itu kata kloning juga dipergunakan untuk menunjukkan rekayasa genetika, ada juga yang menggunakannya dalam proses yang disebut dengan ”twinning” (kembar), yakni bilamana sebuah sel telur yang dibuahi opleh sebuah sela sperma dan dalam perkembangannya memecah diri menjadi dua embrio atau lebih.

Dalam bioetika istilah kloning dipergunakan secara umum untuk menunjukkan segala macam prosedur yang menghasilkan replika genetik yang sama persis dari induk biologis, termasuk DNA sequence, sel atau organisme. Oleh karena organisme dibuat dari satu sel dan dengan demikian mendapatkan faktor-faktor keturunan yang sama persis dengan induk biologisnya.Ada tiga macam cara guna mendapatkan replika genetik yang sama persis (kloning): pertama berasal dari embrio yang biasa, yakni hasil pembuahan sel telur dengan sperma. Pada salah satu tahap perkembangannya, yakni sebelum embrio itu tinggal di dalam dinding rahim, embrio tersebut berada dalam tahap yang disebut totipotenti, yakni sampai dengan tiga hari sesudah pembuahan dan embrio itu terdiri dari 2-8 sel. Yang selanjutnya akan berkembang menjadi seorang individu (embryo splitting). Mereka akan memiliki kesamaan genetis dengan induknya, sebab kesemuanya mendapat faktor keturunan dari ayah dan ibunya.
Embryo splitting ini pengembangannya dilakukan bersamaan dengan program ”pembuahan artifisial” atau banyak dikenal istilah bayi tabung dengan tujuan utama, yakni menyediakan sebanyak mungkin embrio untuk ditanam di dalam rahim sehingga dengan demikian si perempuan tidak harus menjalani seluruh proses perawatan untuk mendapatkan sel telur manakala embrio yang sudah ditanam gagal berkembang di dalam rahim. Melalui teknik seperti ini biaya pengadaan embrio dapat diminimalisasi hingga 90%. Tujuan yang kedua adalah untuk memperoleh dua atau lebih embrio yang kembar identik agar salah satunya dapat dipakai untuk penyelidikan kemungkinan penyimpangan genetis dan memperbaikinya pada embrio yang lainnya. Bila kita memperhatikan secara lebih seksama, proses embryo splitting ini sebenarnya juga terjadi secara natural dalam kasus bayi kembar identik melalui pembuahan n dan proses reproduksi normal.
Ada cara lain untuk memperoleh replika genetika yang sama atau persis, yakni dengan ”Recombinant DNA Technology” atau juga disebut dengan ”gene cloning”. Cara ini dibuat pertama-tama dengan menggabungkan gen yang akan diklon dengan sebuah vektor. Organisme yang biasanya digunakan untuk mengklon DNA manusia ialah bakteri Escherrichia Coli (E. Coli), yakni bakteri yang ada di dalam sistem pencernaan manusia. Teknik recombinant DNA ini telah lama digunakan guna menghasilkan banyak sekali bahan farmasi kedokteran.
Manfaat Kloning
Ada beberapa manfaat kloning bagi dunia bioteknologi, yakni:
1. Memproduksi organ tubuh untuk keperluan transplantasi
Permasalahan suplai organ yang kurang untuk transplantasi menjadi sangat mendesak untuk diselesaikan pada masa sekarang ini. Kekurangan organ transplantasi menjadi perhatian serius para ahli. Misalnya, jenis penyakit leukimia tertentu yang hanya dapat disembuhkan secara total dengan cangkok sumsum tulang belakang. Kloning, karenanya menjadi sumber alternatif yang cukup memungkinkan untuk produksi sekaligus suplai organ tubuh.
2. Menghindarkan atau menolak penyakit
Terdapat banyak sekali penyakit keturunan yang diturunkan dari orang tua ke anak yang diakibatkan oleh tidak normalnya gen yang dimiliki oleh orang tuanya. Baik yang terkandung di dalam nukleus (inti sel) maupun diluarnya, misalnya mitokondria – struktur-struktur kecil yang berfungsi sangat krusial di luar nukleus. Problem penyakit keturunan akibat gen yag tidak normal ini dapat dipecahkan dengan praktek kloning. Melalui cara membuang mitokondria dari sel telur yang mengandung abnormalitas gen tersebut dan memasukkannya nukleusnya ke dalam sel telur yang sehat, mitokondrianya dikembangkan didalamnya sebelum akhirnya diimplantasikan ke dalam rahim.
3. Menciptakan manusia unggul
Tujuan ini lebih didasarkan pada keinginan atau impian untuk memperoleh ras/manusia unggul. Contoh keinginan untuk mengklon Einstein. Meskipun demikian, hingga saat ini banyak para ahli sangat meragukan efektivitas dari dari metode ini, seandainya Einstein dapat diklon, apakah klonnya dapat memiliki kejeniusan layaknya Einstein? Sebab, hingga saat ini otak tidak dapat diklon. Terlebih, pengaruh lingkungan, pendidikan, gizi dan sebagainya, sangat mempengaruhi tingkat kecerdasan manusia.
4. Seleksi jenis kelamin
5. Memecahkan masalah reproduksI (tidak dapat memiliki keturunan)
6. Menyediakan bahan riset
7. Immortalitas (ingin tetap abadi)
8. Bisnis para ahli bioteknologi

Problem Etis Kloning
1. Manusia adalah manusia (memiliki hak hidup tanpa proses artifisial)
Dalam satu dasawarsa ini, banyak sekali perdebatan tentang kapan sebuah embrio dapat dikatakan sebagai manusia dan mendapatkan perlindungan hukum dan moral. Beberapa berpendapat bahwa manusia itu dibedakan dengan ciptaan lain karena otaknya, maka sebuah embrio dapat diklasifikasikan ke dalam golongan manusia dan oleh karenanya emndapatkan perlindungan hukum dan moral ketika telah terbentuk jaringan pada otaknya tersebut (Kusmaryanto, 2001: 33) Sebagian lain berpendapat bahwa embrio baru dmemperoleh perlindungan hukum dan moral ketika telah menjadi individu manusia yang sempurna. Berdasarkan pada pengertian individu dari bahasa latin: in + dividere (membagi), yang berarti tidak dapat dibagi lagi ke dalam bagian-bagian lebih kecil. Kemanusiaan manusia bukanlah sesuatu yang ditambahkan dari luar, melainkan sebagai sesuatu yang intrinsik, yang ada bersama adanya manusia. Ia ada dan hilang bersama dengan ada dan hilangnya (matinya) manusia. Singkat kata: Anak domba adalah anak domba dan anak manusia adalah anak manusia. Tanpa merujuk terlebih dahulu kepada ajaran suatu agama tertentu pun, kita telah mengetahui bahwa sel telur yang sudah dibuahi adalah manusia utuh, yang telah ada informasi dan aspek-aspek genetisnya dan tinggal memerlukan waktu untuk proses perkembangan lebih lanjut.
2. Martabat kehidupan manusia
Apa konsekuensi dari hak hidup sebagai hak mendasar bagi manusia? Dalam kloning, kita berhadapan dengan embrio yang juga merupakan ”manusia” sehingga ia tidak dapat dikorbankan dengan dalih apa pun tanpa persetujuan dari orang yang mempunyai hidup itu, yakni tanpa izin dari si embrio itu sendiri.
3. Persinggungan dengan masalah teknik (teknologi)
Problematika teknik yang selalu berhubungan dengan harkat dan martabat manusia adalah: tidak semua teknik yang mungkin selalu valid secara moral.Jangan sampai teknik (teknologi) yang keberadaannya dimaksudkan untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia justru merusaknya. Salah satu keberatan terhadap kloning dalam hal ini adalah masalah teknik. Sampai saat ini, teknik yang dipakai sangat tidak aman untuk manusia dan sangat tidak efektif. Terdapat banyak kemungknan kegagalan dalam proses kloning, seperti kasus yang terjadi pada kloning domba Dolly. Dengan kata lain dapat dikatakan kloning adalah tidak etis karena hasil yang akan dicapai melaluinya masih jauh lebih sedikit dibandingkan dengan kerusakan yang akan dihasilkan oleh teknik kloning tersebut.
4. Risiko kesehatan
Karena teknik (teknologinya) yang belum aman, maka akan sangat berimplikasi terhadap kesehatan olah orang yang lahir melalui praktek kloning ini. Kesalahan fatal yang dapat diakibatkan oleh kloning dapat mengakibatkan cacat atau penyakit keturunan seumur hidup. Tidak sebanding dengan upaya untuk menghindari penyakit dengan melakukan proses kloning tersebut.
5. Hak manusia untuk lahir secara natural
6. Identitas individu dan keunikannya
7. Kebebasan manusia vis a vis kesalahannya
Manusia yang diklon adalah manusia yang tidak memiliki kebebasan secara utuh, dalam arti kebebasan bertindak menurut pertimbangan akal budi dan kehendaknya. Manusia hasil klon tidak dapat dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya. Karena ia bertindak tidak atas kehendaknya sendiri, melainkan ia dipakas untuk bertindak demikian.
8. Masalah ketidakadilan sosial

Penutup
Sebagai manusia kita harus memiliki kemmapuan untuk ”mengelola” teknologi agar mampu memanusiakan manusia dan bukan malah mendehumnisasi manusia. Teknologi juga pada dasarnya bukan monster yang harus dihindari karena melaluinya manusia dapat mencapi kemajuan dan prestasi dalam kehidupannya. Yang harus kita lakukan terhadap teknologi adalah menjaga agar teknologi itu tetap berada dalam kendali manusia. Kita harus dapat mengendalikannya agar kita tidak sampai diperbudak oleh dan menjadi hamba dari teknologi. Oleh karena itu diperlukan perangkat-perangkat nilai yang berdasarkan harkat dan martabat manusia untuk mengevaluasi perkembangan teknologi agar tidak menghancurkan kehidupan manusia. Last but not least, sangatlah signifikan peran manusia untuk menguasai dan mengendalikan ilmu pengetahuan dan teknologi agar senantiasa melaju dalam jalur lintasan yang seharusnya, yakni dengan mengembangkan nilai-nilai kebudayaan secara berimbang dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Semuanya tidak sesederhana yang kita bayangkan bukan?

KLONING DOMBA DOLLY
http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_books/images_20Pertanyaan/76.jpg
Kata kloning, dari kata Inggris clone, pertama kali diusulkan oleh Herbert Webber pada tahun 1903 untuk mengistilahkan sekelompok makhluk hidup yang dilahirkan tanpa proses seksual dari satu induk. Secara alami kloning hanya terjadi pada tanaman : menanam pohon dengan stek.
Sejarah tentang hewan kloning telah muncul sejak tahun 1900, tetapi hewan kloning baru dapat dihasilkan lewat penelitian Dr. Ian Willmut seorang ilmuwan skotlandia pada tahun 1997, dan untuk pertama kali membuktikan bahwa kloning dapat dilakukan pada hewan mamalia dewasa. Hewan kloning tersebut dihasilkan dari inti sel epitel ambing domba dewasa yang dikultur dalam suatu medium, kemudian ditransfer ke dalam ovum domba yang kromosomnya telah dikeluarkan, yang akhirnya menghasilkan anak domba kloning yang diberi nama Dolly.
Kloning domba Dolly merupakan peristiwa penting dalam sejarah kloning. Dolly direproduksi tanpa bantuan domba jantan, melainkan diciptakan dari sebuah sel kelenjar susu yang di ambil dari seekor domba betina. Dalam proses ini Dr. Ian Willmut menggunkan sel kelenjar susu domba finndorset sebagai donor inti sel dan sel telur domba blackface sebagi resepien. Sel telur domba blackface dihilangkan intinya dengan cara mengisap nukleusnya keluar dari selnya menggunakan pipet mikro. Kemudian, sel kelenjar susu domba finndorset  difusikan (digabungkan) dengan sel telur domba blackface yang tanpa nukleus. Proses penggabungan ini dibantu oleh kejutan/sengatan listrik, sehingga terbentuk fusi antara sel telur domba blackface tanpa nucleus dengan sel kelenjar susu dompa finndorsat. Hasil fusi ini kemudian berkembang menjadi embrio dalam tabung percobaan dan kemudian dipindahkan ke rahim domba blackface. Kemudian embrio berkembang dan lahir dengan ciri-ciri sama dengan domba finndorset.
Kloning domba Dolly termasuk teknologi transfer inti sel reproduktif kloning. Pada tipe reproduktif, DNA yang berasal dari sel telur hewan dihilangkan dan diganti dengan DNA yang berasal dari sel somatic (kulit, rambut, dan lain-lain) hewan dewasa yang lain.
Jadi, domba hasil kloning merupakan domba hasil perkembagbiakan secara vegetative (aseksual) karena sel telur tidak dibuahi oleh sperma.
Prinsip dari teknik yang diaplikasikan untuk menciptakan Dolly, sebenarnya sangatlah sederhana dan sudah ada sejak tahun 1975. Seorang ilmuwan bernama Gurdon mengambil nukleus atau inti sel dari sel telur katak dan menggantinya dengan nukleus dari sel usus, hasilnya: kecebong-kecebong kecil yang mati sebelum tumbuh jadi katak dewasa.
Kloning akan berhasil apabila nukleus ditransplantasikan ke dalam sel yang akan menghasilkan embrio (sel telur) termasuk sel germa. Sel germa adalah sel yang menumbuhkan telur dari sperma.
Dolly, (5 Juli 199614 Februari 2003) seekor domba betina, adalah mamalia pertama yang berhasil dikloning dari sel dewasa. Dia "lahir" di Institut Roslin, Skotlandia dan tinggal di sana hingga kematiannya pada usia 6 tahun. Kelahirannya diumumkan pada 22 Februari 1997.
Penelitian membeberkan bahwa ketika Dolly lahir, ternyata dia usianya sudah beberapa tahun, sama dengan usia donor sel yang diperolehnya.



0 comments:

Post a Comment